FIKSI

Mawarni; Yang Tak Pernah Mengikat Rambutnya

roses-flowers-tattoo-neck-placement-

“Duh Gusti, dalem nyuwun agunging samudra pangaksami.”

Perempuan itu merintih kesakitan sambil memegangi perutnya, sementara satu tangannya yang lain mencengkeram erat pagar rumah setengah terbuka yang entah milik siapa. Napasnya terengah sambil sesekali melihat ke arah belakang, mengawasi apakah orang-orang itu masih berusaha mengejarnya.

 “Duh Gusti, dalem kangen.”

Perempuan itu masih merintih kesakitan. Kepalanya perlahan tertunduk pada punggung tangan yang masih mencengkeram erat pagar rumah, yang entah milik siapa. Air-air yang menetes dari wajahnya, entah peluh atau airmata sudah tak lagi jadi pedulinya sebab terlepas dari kejaran orang-orang itu adalah perjuangan terbesarnya hari itu.

Suara itu, orang-orang berlari mengejar sesuatu. Perempuan itu terbelalak seketika dan melepas cengkeraman tangannya. Dia mencoba berlari, namun seseorang lebih dahulu membekap mulutnya dan membawanya ke suatu tempat.

***

Wanita tua berkonde dengan satu bunga mawar sebagai hiasannya mendekati perempuan itu, yang sedari tadi terikat di sebuah kursi di halaman belakang rumah.

“Mawarni, kesayangan juragan gula terkaya di Pesisir Utara, mau lari kemana lagi, hha?”

“Kenapa tak kau selesaikan saja aku waktu itu?”

“Selama aku hidup, luka ini akan tetap menganga. Maka tidak akan aku selesaikan hanya dengan membunuhmu saat itu, bocah 7 tahun kesayangan jurangan Chen. Bocah keturunan mei gui yang sekarang tumbuh besar dan mengandung kutukan!”

JUHH!!! Perempuan itu meludah tepat mengenai wajah bagian kanan wanita tua itu.

“Tak cukup kah kau menyiksaku dengan tato-tato di tubuhku ini, ibu tua?”

Setelah mengusap ludah di wajahnya, perlahan wanita tua itu mengelus rambut perempuan itu lalu menjambaknya ke belakang.

“Selama aku masih bisa melihat mawar-mawar ini di tubuhmu, selama itu pula penderitaanmu akan berlangsung. Bahkan sampai anak keturunanmu pun akan mewarisinya, dan menjadi seorang mei gui.

JUHH!!! perempuan itu meludah untuk yang kedua kalinya, tepat mengenai wajah bagian kanan wanita tua itu lagi.

Setelah mengusap ludah di wajahnya lagi, wanita tua itu mengangkat dagu si perempuan dan mengelus-elus mawar di lehernya dengan sebilah pisau.

“Menyiksamu semasa hidup akan menjadi balasan terindah atas kebahagiaanku bersama Chen yang kau dan ibumu ambil dariku!”

“Kau sendiri yang menolaknya, ibu tua! Mami memang seorang mei gui,tapi dia ibu yang sangat baik. Tidak sepertimu ibu tua! Kalau saja mereka melihatmu sekarang ini, mereka pasti akan mengutukmu sebagai seorang ibu yang tak pernah mau mengandung dan melahirkan anak-anaknya!”

PLAK!!! tamparan yang sangat keras mendarat di pipi kiri perempuan itu. Sementara wanita tua masih menahan amarah di genggaman tangannya. Sambil menahan sakit akibat tendangan-tendangan di perutnya, perempuan itu terus bercerita tentang hal-hal yang paling dibenci wanita tua itu.

“Yang ada di pikiranmu hanya kekayaan dan ambisi untuk menguasai pasar gula di Jawa. Kau hanya ingin pengakuan dari orang-orang yang mungkin tidak pernah peduli akan kebahagiaanmu. Kau menginginkan sesuatu dengan mengorbankan satu anugerah yang tak ternilai harganya; menjadi seorang ibu. Kau tidak pernah mau menuruti satu hal sederhana yang diinginkan papi; menjadi ibu untuk anak-anaknya. Kau menolaknya, kau istri durhaka!”

“DIAM!!!” teriak wanita tua itu bersamaan dengan tamparan kedua di pipi kiri perempuan itu. Ia meringis kesakitan di pipi juga di perutnya yang masih terasa tendangan-tendangan di sana.

Suasana di tempat itu masih tegang. Wanita tua itu berjalan ke belakang perempuan itu, perlahan merapikan rambutnya yang berantakan dan mengikatnya dengan gelang kayu kokka miliknya. Wanita tua itu memperlakukan perempuan itu begitu manis, seperti putrinya sendiri.

“Rambut diikat begini membuatmu terlihat lebih manis. Kenapa tidak dari dulu saja? Kau takut aku bisa menemukanmu?”

Perempuan itu pasrah dengan apa saja yang dilakukan wanita tua itu terhadapnya.

“Berkali-kali kau gugurkan mereka yang tak berdosa hanya demi kekayaan yang fana.”

Mendengar itu, wanita tua kembali murka. Ia mengambil sebilah pisau yang ia jatuhkan ke lantai tadi. Memeluk perempuan itu dari belakang dan menaruh pisau di lehernya. Tak hanya dieluskan, tapi sudah menggores kulitnya perlahan.

“Bunuh saja aku, Bu. Seperti saat kau menggugurkan anakmu satu persatu,” kata perempuan itu dengan lirih. Air mata menetes bercampur peluh membasahi seluruh wajah perempuan itu.

Wanita tua itu membuang jauh-jauh pisau yang sudah berlumuran darah dan mendorong kursi itu hingga perempuan itu terjatuh ke lantai.

“Aku tidak pernah menggugurkan apapun. Aku hanya ingin Chen tetap mencintaiku seperti saat pertama dia melamarku. Aku hanya ingin Chen tetap mencintaiku yang ayu. Aku tidak pernah menggugurkan apapun!!!”

Wanita tua itu meneriakkan kalimat itu berulang-ulang sambil membanting apa saja yang ia temui di halaman dan teras belakang rumah, pot bunga, kursi, asbak kaca, lalu masuk ke dalam rumah dengan membanting pintu. Teriakan-teriakan itu menjauh. Tinggal perempuan itu seorang diri, merintih kesakitan di leher yang masih berdarah, di tangan yang ikatannya mengendur, dan di perut yang semakin kencang rasa tendangannya.

***

Perempuan itu terbangun di kamar yang dari jendelanya, ia bisa melihat pagar rumah setengah terbuka yang entah milik siapa. Di sisi kirinya, perempuan itu  melihat seseorang yang sangat ia kenal menggenggam erat tangannya.

“Mas Setyo,” perempuan itu memeluknya erat, sangat erat.

“Mawarni, maafkan aku.”

“Perempuan itu? Ternyata aku menjadi mei gui juga seperti Mami.”

“Tidak pernah, itu tidak pernah terjadi. Seperti halnya kau, Mawarni. Hidupku pun disiksa wanita tua itu. Wanita tua itu membuat seolah-olah kau seperti Mami. Aku adalah salah satu kebahagiaanmu yang ia hancurkan perlahan untuk menyiksamu. Sedikitpun aku tak pernah berhenti memikirkanmu.”

“Tapi dia masih berusaha mengejarku. Aku lelah.”

“Sshhtt, tenang. Kita aman di sini untuk sementara. Besok kita akan menyusul Mami dan Papi.”

“Mas…” perempuan itu mencengkeram erat tangan suaminya. Ia merasakan kontraksi hebat dan merasakan sesuatu membasahi tempat tidurnya.

“Ini air ketuban. Sudah waktunya kah?”

“Sepertinya ini baru bulan kedelapan, Mas. Aku sudah tidak kuat lagi,” perempuan itu mengejan sekeras-kerasnya.

Tangisan itu pecah untuk pertama kalinya…

***

“Kalaupun dia terlahir perempuan, dia tidak akan mewarisi apapun selain kecantikan wajah dan hati ibunya.”

“Juga kesetiaan dan ketabahan hati ayahnya.”

Di sebuah sore yang memerah, seorang bocah laki-laki sibuk berlari dengan layang-layang miliknya. Ayah dan ibunya sibuk memandangi bocah itu dari teras rumah sambil meminum teh dan membaca catatan distribusi pabrik gula milik mereka.

“Kau lebih cantik dengan rambut terikat, sepertinya.”

Perempuan itu melirik tajam ke arah suaminya.

“Tapi kau tetap paling cantik dari bunga yang ada di lehermu.”

Perempuan itu tersenyum geli.

Dari beranda lantai dua, kakek dan nenek bocah laki-laki itu pun tersenyum sambil saling bersandar.

“Kau bukan seorang mei gui, kau bunga terindah untuk Chen,” kata laki-laki tua itu kepada istri yang paling ia cintai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s