FIKSI

Pohon Asem

PicsArt_05-09-11.13.45

“Ibu!!!!! Ibu!!!!!” terdengar Rahman berteriak kencang seperti biasanya. Kali ini ia berteriak sambil membentur-benturkan kepalanya ke pintu kamar. Pintu kamar yang menghubungkannya ke balkon.

“Ibu!!!!! Ibu!!!!!”teriaknya makin kencang.

“Astaghfirullah Rahman, maafkan ibu Nak. Ibu tadi sedang ada tamu di bawah. Maaf membuatmu menunggu lama.” Ibu Rahman datang memeluknya sejenak agar Rahman sedikit lebih tenang, kemudian dibukanya pintu kamar Rahman. Ditujunya sebuah kursi gantung rotan berwarna coklat yang dibuat ayah Rahman saat ia masih kecil. Mendekap bantal di dalamnya, Rahman lebih mirip tupai terbang di dalam singgasananya.

Pukul empat dua puluh sore adalah jadwal mutlaknya duduk di kursi gantung rotan itu. Melingkarkan tubuh di dalamnya, menghadap langit yang tertutup rerimbunan daun pohon asem.

“Saya masih belum tahu apa yang menimpa Malik. Namun sejak kepergian ayahnya ke Johor, ia sering marah dan tidak terkendali. Jikalau permintaannya tidak segera dipenuhi, ia akan melakukan hal yang ekstrim. Pernah suatu saat kami ke apotik, karena antrian terlalu lama, Rahman melempar-lemparkan tangannya ke kursi. Makin lama makin kencang. Tangannya memerah hampir berdarah. Ibu bingung harus bercerita pada siapa, Nak.”

“Terakhir kali ke kampus, Rahman juga bersikap aneh, Bu. Dia nampak lusuh dan tidak rapi. Rambutnya tidak disisir, bajunya juga tidak dimasukkan seperti biasanya. Dia juga tidak masuk ke kelas, hanya duduk termenung di taman.”May teman sekelas Rahman menjelaskan. Secangkir teh di depannya menjadi penutup kunjungannya ke rumah Rahman sore itu.

“May pamit dulu, Bu. May harap Ibu dan Rahman bisa hadir lusa nanti. Assalamualaikum.”

“Wa’alaikumussalam.”ibu Rahman mengantarkan May keluar rumah. May pulang mengendarai mobil merahnya menjauh dari pandangan. Perhatian ibu Rahman beralih ke arah suara gaduh yang terdengar dari lantai atas.

“Rahman, tenangkan pikirmu, Nak.” terlihat Rahman sedang melemparkan barang-barang di kamar keluar ke arah pohon asem di depan balkon, sambil terus meronta. Membalik ke arah ibunya yang baru saja masuk ke dalam kamar. Rahman terus melempar apa saja yang ia temui ke seluruh penjuru kamar. Tepat di dahi ibunya mendarat serpihan kayu meja yang lebih dahulu rusak oleh cakaran tangan Rahman.

“Ayah gugur . . . Ayah gugur!” teriak Rahman yang mulai lemas, berlarinya ke arah balkon. Sesorang sedang berusaha memangkas dahan dan ranting pohon asem di depan balkon yang mulai lebat kemana-mana. Sesorang yang lain mencoba merobohkan batang besar di bawahnya. Mungkin ini yang menyebabkan kemarahan mahadahsyat di hati Rahman.

“Ayah gugur. . .ayah bukan daun. Ayah gugur. . .ayah tidak tumbuh lagi.”kata Rahman tertatih. Masih dengan bersimba darah, ibu Malik memeluknya dengan ketenangan yang lapang.

“Tenangkan dirimu, Nak. Jangan risaukan yang ada di depanmu. Daun-daun itu akan tumbuh lagi. Tak lama setelah ini, bias cahaya matahari yang muncul dari dan hendak pulang ke peraduannya akan kembali muncul diantara barisan lubang dedaunan diluar sana. Ayah memang gugur, tapi dia tumbuh di dalam sini.”ditunjuknya dada Rahman. Rahman menatap nanar ibunya yang masih mendekap, menenangkan Rahman.

Juli 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s