MOVIE

Ralph Breaks The Internet; Wreck It Ralph 2

43904824165_2d0fd985a9
The saddest scene on Ralph Breaks The Internet, I think 😦

 

Setelah kemarin menemukan satu temuan mengejutkan tentang salah satu lagu tema Ralph Breaks The Internet yang diisi oleh Payung Teduh, dan secara mendadak membuat postingan intro, sekarang saatnya bercerita!

Di postingan ini saya akan membahas 2 hal yang saya tangkap dari Ralph Breaks The Internet; Wreck It Ralph 2 (read; Ralph 2). Nggak ada spoiler ya, karena alur cerita dan informasi tentang Ralph 2 bisa kamu baca di sini.

Sudah pada nonton filmnya? Sebenernya saya nggak ada rencana buat nonton Ralph 2 di bioskop, saya nggak tahu malahan kalau ada Ralph 2 ini. Berawal dari keisengan buat nyobain promo buy 1 get 1 dari kartu debit BNI, dan ngecek jadwal film yang tayang hari itu. Baru tahu ternyata ada sekuel kedua dari Wreck It Ralph, yasudah akhirnya saya menjatuhkan pilihan padanya tapi dia tak pernah menoleh padaku~

Continue reading “Ralph Breaks The Internet; Wreck It Ralph 2”

MUSIC

Sebuah Lagu – Payung Teduh, for Ralph Breaks The Internet

 

Bentar, saya mau nangis lagi dulu huhuua~ lagunya bikin mewek.

Postingan ini sengaja saya pisahkan dari postingan utama yang akan secara detail membahas beberapa hal yang saya tangkap seusai menonton film Ralph Breaks The Internet: Wreck It Ralph 2 kemarin. Salah satu postingan tak terduga memang, karena sebelumnya saya hanya ingin membuat postingan yang membahas tentang filmnya (values). Tapi saat melakukan pencarian pada kanal Youtube, saya menemukan lagu ini menjadi salah satu pengisi lagu/lagu tema dalam film Ralph Breaks The Internet, dan video tersebut diunggah pada akun resmi Disney Music Asia Vevo. Maka tidak diragukan lagi bahwa benar adanya, Payung Teduh menjadi salah satu pengisi lagu tema dalam film ini.

Continue reading “Sebuah Lagu – Payung Teduh, for Ralph Breaks The Internet”

FIKSI

Prompt 66; Dia Ada

142845_379705_lukisan_langka

sumber

“Aku tak mengira hal mengerikan itu terjadi padaku.”

Kenapa aku bisa lupa kalau ada dia di sana, padahal sudah berkali-kali aku ingatkan diriku sendiri untuk tidak macam-macam dengan sudut ruangan itu. Sejak pertama kami mengunjungi rumah ini, ada hawa lain yang kurang menyenangkan di hatiku, tapi suamiku ngeyel untuk membeli rumah ini. Rumah ini dijual karena semua anggota keluarga sebelumnya sudah mapan dan memiliki rumah sendiri-sendiri. Salah satu permintaan si empunya rumah sebelumnya adalah untuk tidak merubah apapun di sudut kanan ruang keluarga. Tepat di dekat jendela, ada sebuah meja rias dengan kursinya dan sebuah lukisan seorang wanita. Mereka meminta agar tidak menggunakan meja dan kursi rias tersebut, hanya harus dibersihkan setiap pagi dan sore, harus.

Sayangnya, aku lupa membersihkannya sore tadi karena aku ada arisan PKK di balai RT, dan parahnya lagi, sebelum berangkat arisan, aku meninggalkan bedak dan lipstikku di meja rias itu. Aku benar-benar lupa dan tak henti-hentinya menyalahkan diriku sendiri. Aku lalai akan amanah yang sudah dititipkan padaku sebagai pemilik baru rumah ini. Tadinya aku pikir tidak akan ada masalah, toh ini rumah sudah menjadi milikku dan suamiku, tapi ternyata aku salah. Sepulang arisan maghrib tadi, aku mendapati kursi rias di ruang keluarga bergerak-gerak menggaduh dengan sendirinya dan kaca di meja rias berubah warna menjadi hitam. Iya, kursinya bergerak-gerak dengan sendirinya, semakin kencang dan semakin kencang gaduhnya. Tak ada orang lain di rumah selain aku, sementara suamiku belum pulang dari kantor. Aku tak tahu harus berbuat apa agar dia berhenti membuat kegaduhan dengan meja dan kursi rias itu. Aku sudah berusaha berbicara dengannya, namun dia tak mau kompromi.

“Ini sudah jam dua belas malam, dan suamiku juga belum pulang. Aku tahu aku lalai dengan amanah anak cucumu, tapi aku mohon mengertilah. Maafkan aku.” pintaku padanya.

Dia turun dari tempatnya selama ini, wanita di dalam lukisan itu menjelma dan mendekatiku. Selama ini, aku hanya melihatnya dari kejauhan, merias diri setiap pagi dan sore. Kali ini dia berada tepat di sampingku? Aku gemetar tak terkira, keringatku pun bercucuran. Dia semakin mendekat dan mendekat, tepat di telingaku dia berbisik

Jangan macam-macam dengan sebuah amanah, apapun itu.”

Kemudian dia kembali ke dalam lukisan itu lagi.

Ditulis untuk Propmt 66 Monday Flash Fiction

Oktober 2014

FIKSI

Mawarni; Yang Tak Pernah Mengikat Rambutnya

roses-flowers-tattoo-neck-placement-

“Duh Gusti, dalem nyuwun agunging samudra pangaksami.”

Perempuan itu merintih kesakitan sambil memegangi perutnya, sementara satu tangannya yang lain mencengkeram erat pagar rumah setengah terbuka yang entah milik siapa. Napasnya terengah sambil sesekali melihat ke arah belakang, mengawasi apakah orang-orang itu masih berusaha mengejarnya.

 “Duh Gusti, dalem kangen.”

Continue reading “Mawarni; Yang Tak Pernah Mengikat Rambutnya”

EVENT

Verve-kan harimu!

Semarang sudah mulai sering dibasahi oleh penghuninya. Ini sudah jauh dari hujan bulan Juni, tapi bukan juga pengaruh dari November rain. Titik-titik itu datang dari keresahan penduduk Ibu Kota Propinsi ini yang harus selalu mendapati kenyataan bahwa kota yang menyimpan banyak sejarah ini masih diberi stereotype sebagai kota transit. Padahal Semarang menyimpan banyak sekali destinasi wisata mulai dari wisata budaya, wisata religi, wisata sejarah, dan wisata kuliner yang aduhai sayang sekali untuk dilewatkan. Atau mungkin memang kota ini ditakdirkan untuk memiliki atmosfir yang adhem-adhem saja meskipun sedikit bertolak belakang dari letaknya di daerah pesisir. Terlepas dari itu semua saya masih menganggap kota ini sebagai kota asmara seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya. Kota yang menyimpan banyak kenangan pada setiap sudutnya.

 

IMG_5251

Do you see that beautiful night scene of Lawang Sewu? can you guess, from where I took it? It’s Verve!  Continue reading “Verve-kan harimu!”