TALK

Yang Dihidupkan dari Separuh Nyawanya

DSCF0300

Selamat tengah malam, sungguh ini adalah tulisan yang terlambat (menurut saya pribadi). Tapi tidak menjadi masalah ya, karena saya rasa saya harus menyampaikan tulisan ini. Ya terserah kamu Tik~

Hari ini, saya ditampar oleh dua hal;  Continue reading “Yang Dihidupkan dari Separuh Nyawanya”

Advertisements
TALK

Sebuah Pintu

Mendatangkanku untuk masa depannya
Menaruh harapan penuh asa
pada setitik ruh tak beraga
Kemudian lahir segenggam bahagia
Hanya segenggam, sekepal tak lebih
Kemudian ditangisinya dengan lirih
Belajar dari luka yang pedih
Dia mengurungku dengan perih

Aku rindu akan sujudmu
di sebuah pintu tanpa ragu
Aku rindu akan tangismu
di sebuah pintu begitu syahdu
Aku rindu akan wajahmu
dipenuhi cahaya wudhu
Aku rindu segala tentangmu
dengan dekapan penuh rindu

Berada di tengah pintu
aku masih menunggumu
di sebuah pintu penuh ragu
di sebuah pintu pembatas rindu
di sebuah ruang kita merajut membisu

Aku menunggumu di sebuah pintu
merindukan sujud dan doamu

TALK

Why do people . . . . . . ?

Hae . . . people~

Berikut ini adalah kegelisahan saya dalam rangka mendaki gunung lewati lembah menyebrangi luasnya samudra guna menempuh jauhnya jarak benua seberang beberapa hal yang mungkin teman-teman sekalian sepemikiran atau mungkin bertolak belakang dengan sambatan saya ini. Saya belajar bahwa beberapa hal mungkin lumrah untuk yang lain dalam kata lain itu memang sudah seharusnya, tapi pasti ada saja yang nyeleneh di kepala saya: kok iso ya? keno opo kudu di…? Kalau ndak gitu nanti ini ya? dan lain-lain.

Why do people cutting down the trees?

Terlepas dari konsep tebang pilih yang sedikit saya dapat saat pelajaran di Sekolah Menengah, sebenernya saya pengen banget nendang orang yang nebangin pohon sembarangan. Saya juga sering lihat orang-orang kerja bakti di hari Minggu selalu nebangin pohon. Apakah menurut mereka kerja bakti itu identik dengan yang namanya harus menebang pohon? Tidak hanya saat kerja bakti, pada saat-saat tertentu dimana beberapa orang yang memiliki acara (hajatan) dan memasang tenda/tratak di depan rumah, ketika ada pohon yang menghalangi tenda maka akan langsung di tebas habis tak tersisa, ironis. Apa mereka nggak pernah mikir lebih jauh tentang dampak menebang pohon sembarangan? Bisa jadi pohon yang mereka tebang itu umurnya lebih tua dari mereka. Duh apa hubungannya? Ada! Ini salah satu bentuk ora ngajeni marang sing tuwo. Tidak mengargai yang tua dan telah menghidupi.

Nggak hanya menebang pohon sembarangan, orang-orang sekarang sering memanfaatkan pohon untuk sarana iklan haratisan yang menurut mereka sangat efisien. Mereka ini mikir nggak sih? Papan-papan iklan dipakuin ke batang pohon, nggak cuma satu iklan di tiap pohon, ada banyak. Kenapa nggak iklannya dipakuin ke badan mereka aja? Memanfaatkan tapi merusak dan merugikan mahkluk lain….hufffftt~

Why do people smoke?

Smoke yang pertama adalah er o ro ka o ka kok -rokok- Kenapa sih orang-orang harus ngerokok? Kalo nggak ngerokok nggak kece gituh? Nggak ganteng gituh? *kemudian dilempar pupuk tembako* Mengingat bengek  yang bersarang di badan, saya tidak bisa berlama-lama terkena asap rokok, saya emang agak sensi sama perokok. Kadang saya iseng ngumpetin rokok bapak terus pura-pura tidur kalau bapak nanya soal rokoknya dimana. Sering rebutan kamar mandi sebelum dimasukin bapak yang melakukan ritual setornya sambil ngerokok dan membuat seisi kamar mandi jadi semacam tempat eksekusi terpidana hukuman mati. Saya akan melakukan tindakan ekstrim seperti teriak-teriak atau marah kalau orang-orang terdekat hendak mengganggu saya dengan rokok mereka. Untuk beberapa yang mengerti dan memutuskan untuk tidak merokok di dekat saya, saya ucapkan terima kasih banyak. Saya juga paham betul kalau tabiat merokok tiap-tiap orang berbeda. Maka dari itu jika sedang berkumpul dengan teman-teman di luar dan beberapa dari mereka sedang merokok, saya lebih memilih untuk menjaga jarak atau pindah acara :D.

Smoke yang kedua adalah bakaran sampah? Saya masih nggak ngerti kenapa orang-orang mengelola sampah dengan cara membakarnya. Mulai dari penjahit di dekat rumah yang ternyata membakar sisa kain yang tak terpakai. Pembuangan sampah di dekat Gereja Bongsari yang kalau saya ke pasar jam tiga pagi udah main bakar-bakaran aja. Padahal pagi-pagi gitu kan harusnya udaranya sejuk, masih bersih dan belum kena polusi ehtapi malah kena asap pekat pembakaran sampah. Kan paginya jadi nggak asik. Apa mereka nggak tau kalau membakar sampah adalah salah satu penyebab perubahan suhu bumi atau istilah lainnya global warming. Banyak yang mengeluh karena sering kena cuaca panas tapi mereka nggak sadar kalau tiap hari masih bakar-bakar sampah. They’re blaming for a thing that they’ve done -meehh…..

Why do people can’t be so “biasa wae” in driving their vehicles? 

Sehari-hari saya bisa berpindah ke dua tiga tempat berbeda untuk alasan pekerjaan, dan pergantian itu terjadi di jam-jam sibuk jalanan (kalimate ambigu ndak an?) Dimana ketika sore hari jalanan ramai oleh pekerja kantoran yang akan pulang, saya baru memulai aktivitas yang kedua, naik motor ke timur tentunya. Terlepas dari rumor kota Semarang yang hampir dikenal dengan kemacetannya, menurut saya Semarang nggak gitu-gitu amat macetnya. Hanya ada banyak orang yang berlebihan dalam berkendara. Saya selalu menemui orang-orang yang tidak sabar dalam berkendara. Mainin klakson sementara penghitung lampu merah masih menunjukan di detik ke lima. Artinya masih harus menunggu 5 detik sampai lampu menunjukkan tanda jalan dengan menyalanya lampu hijau. Nungguin jodoh bertahun-tahun aja betah, masak nunggu detikkan di traffict light aja nggak mampu? #eeh Yaa mungkin alasannya buru-buru gitu ya? Tapi bisa lho nggak pakai berisik mainin klakson, apa salahnya menunggu barang sedetik?

Fenomena lain yang sering saya temui adalah orang-orang berduit yang naiknya mobil ber-cc tinggi yang dengan santainya buang sampah dari kaca jendela mobil. Ini tindakan jangan ditiru ya. Ada lain lagi yang masih suka nerobos lampu merah, padahal tindakan itu bisa membahayakan orang lain bahkan diri sendiri. Banyak hal lain yang bisa kalian temui di jalanan. Beberapa orang mungkin terbiasa dengan perilaku buruk  yang mereka punya. Namun yang memiliki kesadaran terhadap sesama juga tidak sedikit. Masih ada yang setidaknya bersabar ketika ada orang yang hendak menyeberang jalan meskipun tidak di tempat penyeberangan jalan. Kita semua tentunya dapat memilih yang seharusnya sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai masyarakat sosial, hidup bersama orang banyak dengan kepribadian dan karakter masing-masing 🙂

-ditulis dalam rangka jam kosong kuliah perdana, di kantin kampus dua

Salam v( –)

TALK

Kenapa kipas angin bisa muter?

Ya, judul di atas adalah salah satu pertanyaan tak terduga dari Adit, salah satu anak asuhan saya di Muwardi. Kamis kemarin harusnya jadwal belajar, tapi pending karena Adit, Amel (kakaknya) dan ibu pergi berbuka di luar tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Digantilah jadwal belajarnya di hari Jumat, hari ini, sore tadi, barusan, iya udah.

Seperti biasa, jam setengah lima saya sudah sampai di rumah Adit. Tapi yang ngaji duluan Amel, kakaknya karena Adit masih asik main. Udah selesai, gantian giliran Adit yang ngaji. Baru sampai jilid dua, Adit ini cerdas, tinggal pandai-pandai mengarahkan. Muncul senyuman yang nyempil di pipi bakpaonya, Adit selalu bisa bikin saya tepok jidat.

Adit ini punya rasa ingin tahu yang teramat besar. Baru jilid dua tapi udah tanya-tanya bab waqof yang ada di jilid enam. Tanya-tanya kenapa huruf ain ghoin beda-beda kalau ada di awal tengah dan akhir kata. . .dan. . .

“Mbak Gustiii ini kenapa ada ininya? Kenapa nggak huruf nun atau yang lain?” sambil nunjuk-nunjuk tasydid. Masih terjawab, aman.

“Mbak Gustiii . . .hhm kenapa di Al Quran nggak ada cara bacanya yg kayak di juz amma? Kenapa cuma ada huruf arab dan artinya aja?” *toeng* aman.

“Mbak Gustiii. . . Kenapa ngghh. .kenapa kipas angin bisa muter? Trus bisa muter lagi geleng-geleng gitu? Hehehe.” tanya Adit sambil cengengesan, pertanyaannya mulai ngaco.

“Mbak Gusti. . . Kenapa tivi harus ada antenanya?”

“Mbak Gustiii. . . Kenapa telepon rumah pakai kabel, kalo henpon enggak. Trus kalau mati lampu teleponnya bisa hidup nggak?”

“Mbak Gustiii. . . Kenapa hujan turunnya ke bawah?” *mulai klenger*

“Mbak Gustiii. . . Bantal terbuat dari apa? Ini sarungnya juga?”

“Mbak Gustiii. . . Kalau buku terbuat dari ada? Kalau mainan terbuat dari apa? Kayak lego trus hotwheels.nya Adit?”

“Mbak Gustiii. . . Kalau bahasa inggrisnya macan apa? Kalau harimau? Kucing? Zebra?”

Dan masih banyak pertanyaan yang bikin saya tepok jidat se jidat jidatnya. Bunda Adit yang harusnya ngaji tadi juga nggak ngaji karena sedari sore saya disekap Adit dengan pertanyaan yang cukup menguras pengetahuan saya yang pas-pasan ini. Alhamdulillah masih bisa terjawab dengan aman. Saya juga bilang belum tahu pada pertanyaan yang emang saya belum tahu. Bahaya juga untuk anak seumuran Adit yang baru masuk kelas 1 SD, kalau-kalau jawaban yang saya beri ternyata salah. Semacam paradigma kalau gambar pemandangan itu cuma gunung dua, di tengah nyempil matahari. Tidak seperti itu.

Tapi saya seneng banget, karena beberapa yang saya tahu bisa dibagikan kepada yang lain. Kayak belajar lagi sama hal-hal yang udah lama nggak dipelajarin. Absurd emang, tapi nyenengke dan lega hehe.

Bercakap sama anak-anak juga bisa bikin hati refresh dan pikiran segar tanpa beban. Lega juga karena nggak harus jawab pertanyaan . . .

“Mbak Gustiii. . . Kenapa Mbak Gusti mau ke Kairo?”

*lhaiske*

TALK

Kemarin. . .

Pagi tadi sekitar pukul 9.30-an saya berangkat ke kantor diantar Pak Radhen dikarenaken motor hendak diserpis. Lewat bangjo kaligarang ke arah Kelud Raya. Tepat di sebelah saya ada mas-mas jalan jual koran seribuan itu dipanggil oleh seseorang yang mengemudi di belakang saya. Terdengar percapakap seseorang itu tidak hendak membeli koran, dia malah bilang “loro opo telu?” menawari mas-mas penjual koran. Sambil menghampiri seseorang di belakang saya, lalu mas-mas penjual koran kembali ke arah tiang lampu lalu lintas dengan membawa empat bungkusan dan menaruhnya di atas tumpukan koran yang nampaknya belum laku, dua bungkusan besar (mungkin itu nasi) dan dua bungkusan kecil (mungkin itu lauknya).

Lampu hijau sudah menyala, saya harus melanjutkan perjalanan ke kantor, dan ternyata seseorang di belakang saya tadi juga pergi ke arah yang sama dengan saya. Seorang mas-mas kantoran yang mungkin belum genap 30 tahun usianya. Mengendarai kawasaki hijau dan menaruh sekantung plastik besar berisi bungkusan nasi dan lauk di bagian depan badannya. Sepertinya beliau hendak berangkat kerja, rapi dengan setelan jas, tas kantor yang muat untuk menaruh komputer jinjing di dalamnya diselempangkan di belakang punggungnya. Saya lihat lagi beliau memberhentikan seorang bapak tua (maaf:pemulung) di depan bengkel dekat jalan masuk ke Tampomas (sebelum kantor PDAM), beliau kembali mengeluarkan bungkusan nasi+lauk untuk bapak tua itu. Saya sampai kantor dan beliau melanjutkan perjalanan …

Masih… .

masih banyak yang demikian, tanpa berpikir, tanpa alasan, tanpa memilih untuk memberi. Kembali ke kemampuan kita masing-masing 🙂

11 Juni 2013

TALK

Mei – Oktober 2012

Diam~ Aku terdiam karena terlalu banyak ide berdatangan. Kebingungan dari mana aku harus rekam satu-persatu agar tak mudah hilang.

Aku terdiam. . . .

*maaf aku baru kembali dari memberi makan kucingku, dia kelaparan di tengah malam yang cukup dingin ini. Aku juga ikut makan, aku cukup lapar.

Aku terdiam di tengah-tengah sautan kata yang merengek ingin segera disimpan. Mereka terus menerus menarik penaku sambil berkata, “Aku!! Aku!! Aku lebih dulu!! aku lebih dulu mencintaimu

Aku terdiam di jelaga penuh tawa, di ujung sepi dalam keremaian. Aku tidak merasa sendiri. Aku sepi, ironisnya aku adalah dia, sepi. . .

Aku terdiam dalam-dalam memikirkan sendiri dalam sepi. Apa yang salah dari menjadi “sepi”? Lalu sepi, dan teringat bahwa aku pernah sangat bahagia bersamamu. . .

Apa yang salah dariku? Apa mungkin kau terlalu bosan mendengar cerita-ceritaku? Atau kau tidak suka dengan kejutan-kejutan yang aku berikan? Aku tidak pernah gagal menjadi “pembaca” karena sudah lama aku berhenti dari pendahuluan yang konyol macam itu. Mungkin ini akibat terlalu senang bahwa akhirnya aku telah dipertemukan dengan laki-laki sepertimu, sepasang mata yang tak pernah lelah untuk ceria. . .sepasang mata yang tak pernah berhenti menyeru aku mencintai banyak hal dan aku menyukai itu. Sepasang mata yang tak pernah mendung, tak pernah dihujani sembilu. . . sepasang mata doa

Aku dihujani rasa kantuk setelah seharian bekerja di 2 tempat berbeda. Kaki-kakiku digelayuti rasa lelah yang biasa, sembari di-gigit-i kucingku yang sedari tadi tak mau tidur. Tapi akan kuberi tahu satu hal bahwa aku tak akan pernah lupa dengan semua ini. Ini adalah hal indah yang cukup untuk diceritakan kembali, kelak kepada siapapun keturunanku nanti.

Mungkin kau terlalu takut untuk mudah menerima. Untuk yang pernah gagal di langkah pertama sepertimu, dan aku juga yakin selain dirimu pun siapapun tak pernah mau gagal untuk yang kesekian kalinya. Akupun juga demikian, bahkan aku belum pernah memulai sama sekali. Aku terlalu takut kehilangan. Padahal seorang teman sering bercerita bahwa kehilangan adalah hal yang biasa, kepergian adalah hal yang lumrah. Belum pernah memulai saja sudah teramat sering kehilangan, bagaimana kalau sampai berkata ya lalu ia hilang seketika?

Aku sering memberimu kejutan, bukan hanya kamu, yang lain juga sering aku kejutkan. Itu adalah tanda bahwa aku sangat mencintai orang-orang di sekitarku. Itu adalah tanda terima kasihku karena mereka dan kamu telah lahir di hidupku. Kalian/kamu telah ikut memberi warna di halaman terindahku. Salah seorang temanku juga sering bingung kenapa aku sering mengirimkan buku-buku lucu padanya. Padahal kami berbeda provinsi, dia kuliah di YK….kalian tahu kenapa aku sering melakukannya? hehe

Aku belum tahu cara berterima kasih yang semestinya dan sebuah hubungan bernama “pamrih”. Kenapa dia harus ada diantara manusia-manusia lelah mencari kepuasan yang tak pernah berakhir. Kenapa dia harus ada? Ada pula  yang bilang bahwa pamrih hanya ada diantara manusia dan Tuhannya. Manusia beribadah dan mengharap surgaNya. Tapi menurutku itu tidak demikian. Peribadatan manusia terhadap Tuhannya itu ya sudah semestinya. Itu adalah tugas, atau dengan kata lain “bersyukur karena sudah dihidupkan” (-andi meinl).

Atau begini saja, aku beri gambaran: Tuhan menciptakan alam semesta ini, angap saja ini adalah sebuah sekolah -Sekolah Kehidupan- Setiap hari, setiap saat tanpa kita sadari kita sedang menjalani sebuah ujian, ujian naik kelas. Seberapa tingkat keimanan dan ketaqwaan kita terhadap Sang Maha. Semakin lama, dia akan semakin susah. Nilainya? apakah naik kelas atau STAGNAN? Di hari akhir akan dibagikan rapor kehidupan (yah seperti skripsi yang tak kunjung kalian selesaikan :p) Kalau bernilai baik surga balasannya, dan sebaliknya ada nar untuk yang mangkir dari seharusnya. Pamrih…..seharusnya dia tak pernah ada, atau memang hanya manusia yang mengada-ada 🙂

Kembali kepada kenapa aku suka memberi, mengejutkan orang-orang di sekitar dengan hal-hal yan tak biasa, yang terkadang membuat mereka girang atau lebih sering membuat mereka melipat wajah. Aku tidak ingin merepotkan diri sendiri, aku lebih senang merepotkan diri sendiri untuk orang lain. Aku terlalu senang punya banyak teman. Aku hanya ingin berbagi sebisa mungkin, selagi aku mampu membagi. . .

Selagi aku masih berdaya. . .

Selagi aku masih punya rasa . . .

Selagi aku masih ada . . .

Selagi aku masih “ada”

Demi apapun, aku bersyukur bahwa selama aku hidup aku merasa tak pernah mengenal pamrih. Aku tak pernah menganggapnya ada. Semoga aku tak salah dalam hal ini, jangan sampai, dan biar “kanan-kiriku” saja yang mencatat. Berbagi dan memberi, adalah wujud terima kasih dan syukurku karena kalian pernah (dan selalu) ada dalam hidupku, dalam ingatanku. Komplain terhadap yang datang dan pergi? Ah tidak perlu, itu sudah biasa. Ohya satu lagi sebelum pergi tidur pagi ini: Jangan berlebihan mengharapkan manusia kalau tidak ingin kecewa. Sudah pernah kan? jangan diulangi 😉

– dinihari pertengahan November 2012

untuk Mei-Oktober yang cukup berkesan dan aku harus kembali ke dalam terang.